Rabu, 11 Oktober 2017

Perjalanan ke Waikudu - Pertanian Subur di Lahan Kering

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya dan rombongan dari event Pelatihan Penulisan Ilmiah Populer yang diselenggarakan oleh Radio Max Foundation di Waingapu, Kab. Sumba Timur pada tanggal 30 September 2017. Lokasi tujuan perjalanan saya kali ini adalah Waikudu, sebuah lokasi perkampungan yang terletak di desa Mbata Kapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT.


Perjalanan dari Waingapu ke Waikudu ditempuh sekitar kurang lebih 45 menit dengan menggunakan kendaraan minibus. Di sepanjang jalan, saya melewati perkampungan penduduk lokal. Sekitar 45 menit kemudian, sampailah saya di Waikudu. Di sini rumah para warga masih sangat tradisional.

Di sini, perjalanan saya belum berakhir. Masih ada jalan setapak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki berjarak kurang lebih 20 menit waktu tempuh. Tujuan perjalanan kali ini adalah melakukan penelitian tentang kinerja sistem irigasi lahan pertanian di Waikudu. Kabarnya, tanah di Waikudu sangat kering dan tandus sehingga sulit untuk ditanami. Padahal tak jauh dari lokasi pertanian terdapat sungai dengan debit yang cukup besar. Hanya saja jarak tempuh dan kapasitas muatan dari lokasi pertanian ke sungai serta medan yang sulit membuat para petani kesulitan mengairi lahan pertaniannya. Perlu diketahui juga bahwa lahan pertanian berada di dataran yang lebih tinggi dari permukaan sungai, sehingga melakukan pengairan secara konvensional sangatlah sulit untuk dilakukan.

Kembali ke perjalanan saya menuju lokasi pertanian Waikudu, saya harus melewati jalan setapak dan menyeberangi dua sungai yang cukup deras. Di sungai pertama saya harus berjalan hati-hati karena aliran sungai yang cukup deras dengan dasar sungai berupa bebatuan yang sedikit licin, akan berpotensi membuat saya terpeleset dan jatuh di tengah sungai tersebut.



Beberapa saat kemudian sampailah saya dan rombongan di sungai kedua. Di sini saya diberi penjelasan tentang penggunaan pompa air Barsha untuk membantu pendistribusian air di lahan pertanian Waikudu.

Di sini dijelaskan bahwa pompa Barsha digerakkan semata-mata hanya oleh arus aliran sungai tanpa bahan bakar atau penggunaan energi apapun selaiin yang telah disebutkan tadi. Pompa Barsha sendiri mampu memompa hingga 30.000 liter air setiap harinya selama 24 jam penuh tanpa berhenti. Pompa Barsha mampu memompa air dalam keadaan selang vertikal sekalipun hingga ketinggian 20 meter dan secara horizontal dengan rentang panjang selang hingga 2 km. Pompa Barsha dibuat oleh perusahaan bernama Aqysta. Radio Max Foundation mendatangkan alat ini seharga Rp 60.000.000 untuk disewakan kepada petani-petani di Sumba Timur.

Perjalanan berlanjut sampai akhirnya tiba di lahan pertanian yang dituju. Di sini nampak hamparan lahan yang tidak begitu luas, namun penuh dengan tanaman sayuran. Deretan tanaman bawang merah menyambut saya di hamparan paling depan, kemudian disusul oleh kol, bok choy, dan tomat.

Di lahan pertanian ini 100% menggunakan bahan alami baik untuk pembuatan pupuk, maupun pestisida. Sehingga sayuran yang dihasilkan merupakan sayuran organik. Pupuk dibuat dari pembusukan dedaunan yang dipercepat dengan bantuan ragi. Sedangkan pestisida dibuat dengan menggunakan racun dari gadung, daun mahoni, dan daun sirsak.

Di lahan pertanian ini tampak air yang dipompa dari sungai di bawah sampai di lahan pertanian Waikudu. dialirkan melalui selang kemudian disambungkan ke sprinkle sehingga semua tanaman tersiram air. Sebelum pulang saya sempatkan membeli kol dua butir seharga Rp 15.000, sangat murah bila dibandingkan dengan harga di pasar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gorontalo, Luar Biasa... (Traveling Through Sulawesi Part II)

'Gorontalo, luar biasa... Aku ada hanyalah untukmu...' Sepenggal lirik lagu karya Bapak Rusli Habibie, Gubernur Provinsi Goronta...