Apa yang terbersit di benak kalian saat mendengar Kota Manado? Ba'? Tomohon? Minahasa? Tondano? Paniki? Manguni? Kota Doa? Tinutuan?
Pajak Motor dengan Plat DD XXXX RV yang seharusnya sudah jatuh tempo di bulan Mei 2018 lalu, PBB rumah di Villa Mutiara Asri, Bulurokeng yang belum terbayarkan untuk tahun 2018, menggelayut di pikiran. Ingin rasanya hati untuk ke sana, namun saat cek harga tiket pesawat di Travel*ka jadi enggan untuk ke Makassar. Maka, tiba-tiba entah ilham Tuhan yang mana yang masuk ke dalam sanubari hingga menciptakan sebuat hasrat bergelora untuk menempuh perjalanan ke Makassar dengan sepeda motor. Ide yang cukup nekad.
Pajak Motor dengan Plat DD XXXX RV yang seharusnya sudah jatuh tempo di bulan Mei 2018 lalu, PBB rumah di Villa Mutiara Asri, Bulurokeng yang belum terbayarkan untuk tahun 2018, menggelayut di pikiran. Ingin rasanya hati untuk ke sana, namun saat cek harga tiket pesawat di Travel*ka jadi enggan untuk ke Makassar. Maka, tiba-tiba entah ilham Tuhan yang mana yang masuk ke dalam sanubari hingga menciptakan sebuat hasrat bergelora untuk menempuh perjalanan ke Makassar dengan sepeda motor. Ide yang cukup nekad.
Sudah setahun lebih sejak penempatanku di area Sulawesi Utara dan Gorontalo oleh perusahaan tempatku bekerja di PT. Rukun Bersama Sentosa (free sponsorship). Banyak kisah terjadi di kota yang penuh toleransi ini. Bertemu dengan sahabat baru, bertemu kolega sejawat area baru, pengalaman manis dan pahit, hingga kisah haru pilu drama romantika tentang perjumpaan dan perpisahan yang pastinya akan membanjiri rumah kalian dengan air mata jika dikemas dalam seri drama korea yang dibintangi oppa kesayangan kalian. Drama serinya akan rilis setelah seri Traveling Through Sulawesi.
Manado adalah kota yang terkenal akan toleransinya yang tinggi antar umat beragama dan antar suku/ras yang eksis di kota tersebut. Jadi, jika anda berniat untuk memicu konflik SARA di kota ini, sebaiknya anda urungkan saja. Karena anda hanya akan jadi kambing congek yang tidak digubris aspirasinya.
Aku pernah bertemu dengan salah satu turis asing yang berkunjung di Manado. Beliau Mr. Bart dari Polandia. Kebetulan saat itu siang hari, aku nongkrong di kafe Serimpi di belakang T.I.T.D. Ban Hin Kiong, Calaca. Lalu datanglah seorang driver ojek online yang membawa turis asing dan kebingungan untuk berkomunikasi dengan penumpang asingnya. Driver tersebut membawa Mr. Bart. Lalu aku menghampirinya dan berusaha bercerita dengan bahasa Inggris ku yang alakadarnya. Banyak informasi yang saling kami bagikan. Terutama info obyek pariwisata di Indonesia. Yap, he had a really good sense of humor. If only I had a chance, I wanna see him again next time.
Aku pernah bertemu dengan salah satu turis asing yang berkunjung di Manado. Beliau Mr. Bart dari Polandia. Kebetulan saat itu siang hari, aku nongkrong di kafe Serimpi di belakang T.I.T.D. Ban Hin Kiong, Calaca. Lalu datanglah seorang driver ojek online yang membawa turis asing dan kebingungan untuk berkomunikasi dengan penumpang asingnya. Driver tersebut membawa Mr. Bart. Lalu aku menghampirinya dan berusaha bercerita dengan bahasa Inggris ku yang alakadarnya. Banyak informasi yang saling kami bagikan. Terutama info obyek pariwisata di Indonesia. Yap, he had a really good sense of humor. If only I had a chance, I wanna see him again next time.
Jadi, pada hari Jumat malam tanggal 8 Maret 2019, aku mikir keras mempertimbangkan segala positif dan negatifnya melakukan perjalanan ke Makassar dengan sepeda motor. Mulai dari segi keamanan, kekuatan fisikku, sampai ketahanan motorku. Mengingat perjalanan ini adalah something that I never did before. Mungkin perjalanan Manado - Gorontalo sudah biasa aku lakukan, tapi ini Makassar. Namun akhirnya kuambil keputusan untuk berangkat.
Esok paginya pada hari Sabtu pagi tanggal 9 Maret 2019, aku berangkat memulai perjalanan ku mencari kitab kamasutra, eh... Persinggahan persinggahan pertamaku adalah Gorontalo. Perjalanan dari Manado ke Gorontalo ditempuh biasanya kurang lebih antara 8-10 jam. Aku memulai perjalanan dari Manado pada pukul 6 pagi dan tiba di Gorontalo pukul 4 sore, sekitar 10 jam perjalanan. Sebagai informasi, aku menginap di rumah keluarga Helmi Sadiq Basalamah, teman seprofesi di Gorontalo.
Banyak kegiatan di Gorontalo yang akan aku ceritakan di part berikutnya. Manado adalah kota yang tenang, aman dan nyaman untuk ditinggali. Bersyukur aku pernah tinggal di sana.
Thanks for your attention.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar